Notifications
General

Gunungkidul dan Ujian Tahunan Bernama Liburan Panjang


Libur Natal dan Tahun Baru selalu datang dengan dua hal yang sama-sama padat. Jalanan menuju pantai dan potensi nuthuk yang ikut melonjak. 

Nuthuk di sini bukan soal memukul, tapi kebiasaan menaikkan harga seenaknya, biasanya muncul ketika wisatawan sedang banyak-banyaknya dan pilihan mereka sedang sedikit.

Di Gunungkidul, fenomena ini kembali diantisipasi. Bukan karena kurang wisatawan, justru karena terlalu banyak yang datang, dan terlalu menggoda untuk memanfaatkan situasi.

Ketua DPRD Gunungkidul, Endang Sri Sumiyartini, mengingatkan bahwa satu pengalaman tak menyenangkan saja bisa berujung panjang. Bukan di meja pengaduan, tapi di linimasa media sosial.

"Pengalaman buruk wisatawan sangat mudah viral. Kalau sudah viral, itu bisa menurunkan minat kunjungan ke Gunungkidul," katanya.

Masalahnya, di era kamera ponsel dan ulasan daring, harga parkir yang mendadak naik, tarif jasa yang berubah tanpa papan informasi, atau menu yang tiba-tiba naik kelas bisa langsung menjadi konten.

Gunungkidul yang selama ini dikenal dengan alamnya yang ramah bisa berubah citranya hanya karena ulah segelintir orang yang terlalu bersemangat memanen Nataru.

Endang menegaskan, kenyamanan dan rasa aman wisatawan seharusnya menjadi prioritas bersama. Bukan sekadar jargon promosi, tapi praktik di lapangan. 

"Supaya wisatawan merasa aman dan nyaman, pelaku usaha harus tertib. Jangan sampai nuthuk seenaknya," katanya.

Senada, Ketua Bapemperda DPRD Gunungkidul, Ery Agustin Sudiyanti, melihat Nataru sebagai peluang strategis, bukan ajang balas dendam ekonomi setelah sepi panjang. 

Lonjakan kunjungan, menurutnya, semestinya berdampak pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), tanpa harus mengorbankan kepercayaan wisatawan.

"Momen Nataru harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Retribusi wisata, pajak hotel dan restoran, parkir, hingga jasa pendukung lainnya perlu dikelola secara tertib dan transparan," katanya.

Pada akhirnya, pariwisata bukan cuma soal ramai atau sepi. Tapi soal apakah wisatawan ingin kembali, atau justru pulang sambil bersumpah tak akan datang lagi. 

Gunungkidul sudah punya alam yang indah. Tinggal memastikan, harga dan sikap manusianya tidak ikut merusaknya.

Post a Comment
Scroll to top