Kasus Bunuh Diri Tinggi, Puskesmas Gunungkidul Nggak Ada Psikolog
Gunungkidul sudah mencatat 25 kasus bunuh diri sampai Agustus 2026. Di tengah kondisi itu, belum ada satu pun puskesmas di Gunungkidul yang punya layanan psikologi klinis.
Padahal, layanan kesehatan jiwa di puskesmas dibutuhkan supaya warga yang mengalami masalah psikologis bisa mendapat penanganan lebih cepat. Psikolog klinis juga bisa membantu mendeteksi lebih awal orang yang berisiko mengalami gangguan kesehatan jiwa.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Ismono bilang layanan psikologi klinis memang seharusnya ada di puskesmas sesuai arahan pemerintah pusat. Tapi sampai sekarang, layanan tersebut belum tersedia di seluruh puskesmas Gunungkidul.
Kebutuhannya juga bukan tanpa alasan. Data Dinas Kesehatan Gunungkidul mencatat sudah ada 25 kasus bunuh diri sampai Agustus 2026. Layanan psikologi dinilai bisa menjadi salah satu bagian dari upaya pencegahan lewat pendampingan, edukasi, dan penanganan masalah kesehatan mental sejak dini.
Masalahnya, penyediaan tenaga psikologi klinis masih mentok anggaran. Seluruh puskesmas di Gunungkidul sudah berstatus BLUD, sehingga penambahan pegawai harus disesuaikan dengan kemampuan anggaran masing-masing puskesmas.
Ismono menjelaskan kondisi anggaran tersebut membuat puskesmas belum mampu menyediakan layanan psikologi klinis. Sementara itu, meski pemerintah pusat sudah mengarahkan adanya layanan kesehatan jiwa di puskesmas, kebutuhan pembiayaannya tetap harus ditanggung pemerintah daerah.
Ketua Komisi D DPRD Gunungkidul Heri Purwanto minta layanan kesehatan jiwa ini segera direalisasikan. Menurutnya, akses pelayanan kesehatan yang mudah dan merata merupakan kebutuhan dasar warga.
DPRD, kata Heri, sudah beberapa kali mengingatkan pemerintah daerah soal layanan tersebut. Tapi sampai sekarang realisasinya masih terkendala kemampuan anggaran. Dengan kasus bunuh diri yang masih terjadi, kebutuhan layanan kesehatan jiwa di puskesmas dinilai makin mendesak.
